Saturday, March 10, 2007


Harga Barang Elektronik Cenderung Turun, Komputer Stabil
JAKARTA, (PR).-Harga barang-barang elektronik yang terkena penghapusan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) pada 1 Februari 2003 lalu diperkirakan akan mengalami sedikit penurunan rata-rata 6-8%. ”Penurunan yang terjadi memang tidak terlalu banyak karena di sisi lain biaya produksi yang menjadi beban kita tidak turun,” ujar advisor Samsung Electronics Indonesia (SEIN), Soo Nyong Choi di sela peluncuran Plano TVDP di Jakarta, Rabu (5/1).
Dikatakan, untuk beberapa produk elektronik tertentu penurunannya bahkan tidak terlalu banyak, seperti projection TV yang sekarang masih berkisar Rp 15 juta. ”Penurunan terbesar terjadi pada TV berukuran 20 inci-21 inci. Bahkan, untuk TV 14 inci hingga 17 inci sejak tahun lalu harganya sudah kita turunkan karena PPnBM-nya sudah dihapus,” jelasnya.
Diakuinya, untuk kalangan menengah-bawah penurunan harga tersebut memang belum berpengaruh banyak. Namun, diharapkan dengan semakin ketatnya kompetisi di jalur produk elektronik ini, harga-harga tersebut akan menyesuaikan dengan pasar. ”Tetapi, di sisi lain, penurunan PPnBM tersebut telah meningkatkan competition power kami dengan barang-barang selundupan sehingga peredaran barang-barang selundupan diharapkan bisa ditekan dengan keleluasan kami menyesuaikan harga,” paparnya.
Lebih jauh Choi menyatakan pabrik SEIN di Cikarang kini sudah memproduksi Plano TVDP yang merupakan penggabungan teknologi CDROM yang dimiliki unit bisnis digital solution network dengan teknologi layar datar dan DVD yang dimiliki unit bisnis digital media network.
”Hasil sinergi ini menghasilkan sebuah televisi layar datar digital yang dipadukan dengan DVD player,” jelas Choi. Untuk produk ini SEIN menargetkan penjualan sekira 1.000 unit per bulannya dan untuk sementara hanya tersedia dalam ukuran 21 inci. ”Ini baru merupakan test case, bila ada sambutan baik mungkin akan kita kembangkan dengan ukuran 29”. Namun, kita optimisyis target penjualan akan tercapai karena di Amerika Serikat untuk produk yang sama kita sudah menjualnya sebanyak 1 miliar unit,” kata Choi.
Untuk kawasan Asia Tenggara, demikian Choi, Indonesia dipilih sebagai negara pertama yang menjadi target pemasaran Plano TVDP ini. ”Pertimbangannya karena pabrik kita memang berada di Cikarang. Selain itu, pasar Indonesia merupakan pasar yang besar untuk melakukan penetrasi,” paparnya.
Lebih jauh dikatakan, pertumbuhan DVD player di Indonesia sekarang ini terus menunjukkan peningkatan. Sementara itu, penjualan VCD player malah menunjukkan penurunan. ”Untuk tahun lalu pasar Indonesia menyerap sekira 100.000 unit DVD player. Diharapkan, tahun 2003 angka ini akan terus meningkat,” paparnya.
Choi bercermin pada kejadian tahun 1997 lalu saat penjualan VCD player meningkat tajam, menyusul aksi kerusuhan yang terjadi sehingga masyarakat lebih memilih hiburan di dalam rumah. ”Untuk tahun ini kampanye-kampanye menjelang pemilu 2004 mendatang diperkirakan akan mengubah kencenderungan masyarakat untuk mencari hiburan di rumah masing-masing,” jelasnya.
Di Bandung
Sementara itu, harga eceran perangkat komputer baru maupun bekas di wilayah Bandung relatif stabil dan tidak dipengaruhi oleh penurunan bea masuk serta penurunan harga barang-barang elektronik lainnya. Hal ini terpantau saat ”PR” mengunjungi dua tempat penjualan komputer di Bandung, Senin (3/1).
Menurut seorang pedagang komputer di pertokoan elektronik Jln. Purnawarman Bandung, Biston, saat ini harga-harga perangkat komputer baru masih cenderung stabil. Menurutya, kecenderungan penurunan harga hanya terjadi pada perangkat tertentu seperti misalnya RAM (memori), itu pun karena stok barang yang ada cukup banyak. Untuk barang lainnya seperti hard-disk, mother board, monitor, VGA, CDROM, dan aksesori lainnya cenderung stabil mengikuti kurs dolar AS.
”Sebenarnya harga komputer baru di kalangan pedagang masih tetap stabil. Kami belum merasakan dampak adanya penurunan pajak masuk. Saat ini yang turun hanya harga memori karena stok barang cukup banyak. Paling saat ini yang cenderung sedikit hanya stok board karena libur Hari Imlek di Taiwan,” ucap Biston.
Menurut Biston, dampak menurunnya daya beli masyarakat tidak terlalu banyak pada bisnis ini, tetapi hal itu tidak dapat diabaikan. Ia menuturkan rata-rata tokonya mampu menjual dua paket perangkat komputer, bahkan ia mendengar ada toko yang mampu menjual sampai lima paket sehari. Hal itu menunjukkan masyarakat memang masih membutuhkan perangkat itu walaupun kondisi perekonomian yang semakin sulit. Berbeda dengan barang eektronik lainnya yang dijual jadi, perangkat komputer adalah hasil rakitan dari beberaa komponen (hardware) dengan harga masing-masing sehingga cenderung tetap.
”Persaingan di bisnis ini semakin ketat sehingga kita perlu untuk memancing konsumen dengan harga yang bersaing. Harga barang-barang kita masih tergantung dari stok di pasar serta kurs dolar. Sebagian besar konsumen yang membeli paket, rata-rata membeli paket Pentium Intel IV, 1,7 giga atau AMD dengan kecepatan yang sama,” ucap Biston.
Hal senada juga diungkapkan oleh Dody, pedagang di kawasan yang sama. Menurutnya, perangkat komputer sudah menjadi kebutuhan segala kalangan. Ia menuturkan pernah membuat paket khusus bagi anak-anak SD sampai dengan kalangan yang benar-benar menginginkan perangkat dengan teknologi terbaru.
”Kalangan konsumen yang membeli di sini umumnya adalah kalangan mahasiswa, tetapi banyak juga kalangan yang benar-benar menginginkan teknologi baru sering datang ke tempat ini,” ucap Dody.
Ditambahkannya, perkembangan teknologi komputer saat ini sangat cepat sehingga memengaruhi pada harga penjualan. Ia mencontohkan, teknologi terbaru saat ini kecepatan prosesor sudah ada yang di atas 3 giga, dengan demikian praktis akan menurunkan harga prosesor yang ada di bawahnya.
Sementara itu, di pertokoan sekitar Jln. Cicadas yang dikenal sebagai tempat penjualan perangkat komputer second, harga-harga yang ditawarkan juga masih cenderung stabil, tetapi sangat tergantung dari permintaan dan stok barang di pasaran.
Menurut salah seorang pedagang di tempat itu, rata-rata konsumen yang datang ke tempat itu mereka mencari barang-barang yang sudah jarang dijual di pasaran.
”Mereka rata-rata mencari barang-barang yang sudah jarang dijual misalnya hard disk yang ukurannya kecil, prosesor bekas, ataupun RAM jenis EDO, VGA Card, dll. Barang-barang ini sudah langka di pasar,” ucap Irwan, yang mengaku sudah memulai usaha jual beli perangkat barang bekas sejak masih kuliah.
Irwan menambahkan, untuk harga di tempatnya tidak dapat dipatok, tetapi melihat harga-harga saingan serta jumlah barang di pasaran. Selain itu, harga juga sangat ditentukan oleh penawaran dari pembeli. ”Harga-harga barang di sini masih bisa dinegosiasikan. Kecenderungannya bulan-bulan ini masih tetap ramai,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan, dengan semakin sulitnya perekonomian, orang cendrung untuk mencari barang bekas yang harganya relatif lebih murah, tetapi kendati demikian kualitasnya masih cukup bagus. Menurutnya, ketelitian dan pengetahuan konsumen dalam memilih barang sangat menentukan dalam memilih hardware bekas. (A-80/A-130)***